Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif sebesar US$2,23 miliar pada Januari hingga Februari 2026. Indonesia melanjutkan tren surplus perdagangan yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Kinerja ini terutama ditopang perdagangan komoditas nonmigas, sementara sektor migas masih mengalami defisit.
Ekspor nonmigas menjadi penopang
Surplus nonmigas pada dua bulan pertama 2026 tercatat sekitar US$5,42 miliar. Sebaliknya, perdagangan migas mengalami defisit sekitar US$3,19 miliar. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan ekspor barang nonmigas masih menjadi penentu utama posisi perdagangan nasional.
Nilai ekspor kumulatif Januari–Februari meningkat 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Industri pengolahan menjadi salah satu pendorong dengan nilai ekspor yang meningkat, memperlihatkan pentingnya produk bernilai tambah dalam struktur perdagangan.
Tiga pasar utama ekspor
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada periode tersebut. Konsentrasi pasar besar memberikan peluang skala perdagangan, tetapi eksportir perlu memperhatikan perubahan permintaan, kebijakan tarif, dan kondisi ekonomi negara mitra.
Produk besi dan baja, nikel, bahan bakar mineral, mesin elektrik, alas kaki, serta pakaian termasuk kelompok komoditas yang berperan. Perusahaan perlu meningkatkan efisiensi produksi dan memenuhi standar pasar tujuan agar dapat menjaga daya saing.
Dampak terhadap ekonomi domestik
Surplus perdagangan dapat membantu menopang pasokan valuta asing dan ketahanan eksternal. Namun, surplus bukan satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi. Nilai impor bahan baku dan barang modal juga penting karena dapat mencerminkan aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.
Bagi pelaku usaha, perkembangan perdagangan menjadi pengingat untuk memetakan risiko kurs, biaya logistik, dan konsentrasi pasar. Ke depan, keberlanjutan surplus akan dipengaruhi harga komoditas, permintaan global, kapasitas industri, dan kebijakan perdagangan.



